Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Education. Tampilkan semua postingan
Meningkatkan Partisipasi Belajar Siswa Melalui Diskusi Panel

Meningkatkan Partisipasi Belajar Siswa Melalui Diskusi Panel

Bahwa salah satu Upaya Meningkatkan Partisipasi Belajar Siswa di sekolah sangatlah beragam. Pada bahasan ini saya akan menguraikan salah satu upaya meningkatkan partisipasi belajar siswa dengan diskusi panel

Tujuan Pendidikan

Berdasarkan UU No. 2 Tahun 1985 yang berbunyi bahwa tujuan pendidikan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsadan mengembangkan manusia yang seutuhnya yaitu yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan bangsa.

Berdasarkan MPRS No. 2 Tahun 1960 bahwa tujuan pendidikan adalah membentuk pancasilais sejati berdasarkan ketentuan-ketentuan yang dikehendaki oleh pembukaan UUD 1945 dan isi UUD 945.

Tujuan Pendidikan Nasional dalam UUD 1945 (versi Amandemen) 1) Pasal 31, ayat 3 menyebutkan, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.” 2) Pasal 31, ayat 5 menyebutkan, 

“Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.”

Berdasarkan UU. No.20 Tahun 2003 mengenai Sistem Pendidikan Nasional dalam pasal 3, bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tujuan Pendidikan Menurut Unesco Dalam upaya meningkatkan kualitas suatu bangsa, tidak ada cara lain kecuali melalui peningkatan mutu pendidikan. Berangkat dari pemikiran itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui lembaga UNESCO (United Nations, Educational, Scientific and Cultural Organization) mencanangkan empat pilar pendidikan baik untuk masa sekarang maupun masa depan, yakni:
  • learning to Know,
  • learning to do
  • learning to be, dan
  • learning to live together.
Dimana keempat pilar pendidikan tersebut menggabungkan tujuan-tujuan IQ, EQ dan SQ.

Tujuan Pembelajaran

Tujuan pembelajaran adalah tercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajarantercapainya perubahan perilaku atau kompetensi pada siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran

Tujuan tersebut dirumuskan dalam bentuk pernyataan atau deskripsi yang spesifik. Yang menarik untuk digarisbawahi yaitu dari pemikiran Kemp dan David E. Kapel bahwa perumusan tujuan pembelajaran harus diwujudkan dalam bentuk tertulis. Hal ini mengandung implikasi bahwa setiap perencanaan pembelajaran seyogyanya dibuat secara tertulis (written plan).

Upaya merumuskan tujuan pembelajaran dapat memberikan manfaat tertentu, baik bagi guru maupun siswa. Nana Syaodih Sukmadinata (2002) mengidentifikasi 4 (empat) manfaat dari tujuan pembelajaran, yaitu:
  1. Memudahkan dalam mengkomunikasikan maksud kegiatan belajar mengajar kepada siswa, sehingga siswa dapat melakukan perbuatan belajarnya secara lebih mandiri;
  2. Memudahkan guru memilih dan menyusun bahan ajar;
  3. Membantu memudahkan guru menentukan kegiatan belajar dan media pembelajaran;
  4. Memudahkan guru mengadakan penilaian.


Dalam pendekatan masalah khusus dalam pembelajaran atau sering di kenal dengan istilah SME, mendeskripsikan bahwa pendekatan ini akan menciptakan pembelajaran yang spesifik sesuai dengan bidangnya. Pendekatan ini lebih mempertimbangkan apa yang harus dipelajari tentang materi tersebut. Tidak bisa dipungkiri bahwa identifikasi tujuan pembelajaran melalui pendekatan masalah khusus dalam pembelajaran, mengandung makna sebagai pengetahuan dan pengertian berdasarkan informasi yang diterima.
Meningkatkan Partisipasi Belajar Siswa

Pendekatan berikutnya yaitu pendekatan penguraian isi pembelajaran. Pendekatan ini lebih menetapkan berdasarkan fakta-fakta dari masalah yang di tampilkan, tapi sebuah asumsi menyatakan bahwa frekuensi akan mempengaruhi masalah seperti siswa yang berada dalam kelas unggul tetapi tidak belajar dengan tipe yang benar atau yidak sesuia dengan isi pembelajaran. Pendekatan ini sering terjadi jika ”tipe yang benar dan sesuai dengan isi pembelajaran” sesuai denga isi standar kurikulum dan bagan kerja, perangkat pembelajaran, pelatihan manual, dan lain sebagainya. Masalah pada pendekatan ini, harus sesuai dengan standar isi dimana tidak banyak yang sesuai atau tidak ada jalan keluar yang cukup mampu untuk organisasi atau kebutuhan sosial.

Tujuan khusus melalui pendekatan tugas akan valid jika melalui perencanaan yang tepat dan melalui latihan dengan petugas yang ahli dalam pelatihan tersebut atau jika pendesain pembelajaran dapat melatih pemahaman dan kecakapan untuk mengkonfirmasi atau mengubah tujuan pembelajaran setelah menemukan fakta. Pendekatan yang keempat yaitu pendekatan pada teknologi penampilan, dimana dalam tujuan pembelajaran disusun dalam menanggapi masalah atau kesempatan dalam sebuah struktur. Tidak ada pertimbangan atas gagasan sebelumnya dari apa yang harus dipelajari dari apa yang akan termasuk dalam tujuan pembelajaran atau dalam kenyataan adanya kebutuhan untuk semua pembelajaran. Pendesain terlibat dalam analisis pelaksanaan dan proses asesmen kebutuhan untuk mengidentifikasi masalah dengan tepat, dimana hal tersebut bukanlah tugas yang mudah.

Latar Belakang Masalah

Salah satu kewajiban Siswa / Siswi dalam mengturuti pembelajaran di dalam kelas adalah turut berpatisipasi dalam setiap proses pembelajaran yang berlangsung di kelas.

Kemampuan seorang Siswa / Siswi dalam berpartisipasi di setiap proses pembelajaran akan mempengaruhi keberhasilan pembelajaran yang berlangsung di kelas dan menciptakan suasana belajar yang lebih hidup dan penuh makna.
Partisipasi di setiap kegiatan pembelajaran di kelas harus merata. Partisipasi di kelas ini harus dilakukan oleh semua Siswa / Siswi/siswi yang duduk di kelas rendah dan tinggi. Partisipasi Siswa / Siswi sangat penting dalam setiap kegiatan pembelajaran di kelas, khususnya yaitu dalam pelajaran ilmu sosial di kelas V dimana materi-materi pelajarannya menuntut Siswa / Siswi untuk selalu berpartisipasi di kelas agar setiap materi pembelajarannya dapat selalumenempel di pikiran Siswa / Siswi.

Dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa kegiatan partisipasi menuntut Siswa / Siswi untuk berperan serta aktif dalam proses belajar mengajar yang berlangsung di kelas. Kemampuan dalam berpartisipasi harus diterapkan Siswa / Siswi dalam setiap mata pelajaran yang dipelajarinya di kelas. Khususnya dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial.

Sebagaimana yang diketahui bahwa belajar Ilmu Pengetahuan Sosial cukup sulit bagi Siswa / Siswi tingkat dasar seperti Madrasah Ibtidaiyah dan Sekolah Dasar, khususnya Siswa / Siswi kelas V. Dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Siswa / Siswi mkelas V harus mempunyai kemampuan dalam memahami dan menghafal hal-hal penting dari materi pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yang sedang diajarkan guru di kelas dan Siswa / Siswi pun harus memiliki kemauan untuk mengulang kembali pembelajaran tersebur di rumah.

Tidak hanya itu saja, Siswa / Siswi pun harus mampu berpartisipasi dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial. Apabila Siswa / Siswi kurang berpartisipasi dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas maka akan mempengaruhi keberhasilan pembelajaran lebih lanjut.

Dalam kurikulum 2006 atau yang lebih dikenal dengan sebutan KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan), yang terdapat istilah kompetensi yang berarti kemampuan atau pengetahuan serta keterampilan berpikr dan bertindak.

Kurikulum 2006 sendiri merupakan standar program pendidikan yang bertujuan menghantarkan Siswa / Siswi menjadi kompeten dalam berbagai bidang kehidupan.Standar kompetensi yang harus dimiliki Siswa / Siswi kelas V semester II dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial adalah menghargai peranan toloh pejuang dan masyarakat dalam mempersiapkan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sedangkan Kompetensi Dasarnya yaitu:
  1. menghargai jasa dan peranan tokoh dalam memproklamasikan kemerdekaan,
  2. menghargai perjuangan para tokoh dalam mempertahankan kemerdekaan.


Berdasarkan pernyataan yang didapat dari wali kelas V Sekolah Dasar Negeri 02 Pondokpanjang, bahwa dari 26 orang Siswa / Siswi kelas V yang belajar Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas terlihat sekitar 76,9% Siswa / Siswi yang tidak berpartisipasi dalam proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas. Ketidakturut sertaannya Siswa / Siswi dalam berpartisipasi pada pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dapat dilihat dari Siswa / Siswi yang hanya diam saja di kelas mulai dari awal sampai selesainya pembelajaran, ada juga Siswa / Siswi yang selalu berbicara di kelas. Ini dapat dikatakan sebagai Siswa / Siswi yang ribut.

Hal yang menyebabkan Siswa / Siswi ribut dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial adalah Siswa / Siswi kurang berminat dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial. Kurang berminatnya Siswa / Siswi dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial disebabkan oleh model pembelajaran guru yang monoton maksudnya guru hanya menggunakan metode ceramah dalam mengajarkan materi Ilmu Pengetahuan Sosial pada Siswa / Siswi dan keterampilan guru dalam membuat media pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial sangat kurang.

Selain itu, banyak Siswa / Siswi yang beranggapan bahwa belajar Ilmu Pengetahuan Sosial mudah karena menurut mereka belajar Ilmu Pengetahuan Sosial cukup hanya mendengarkan penjelasan yang guru berikan.

Pernyataan yang diuraikan di atas, merupakan suatu masalah yang terjadi pada Siswa / Siswi kelas V saat belajar Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas. Selain masalah diatas, ada beberapa masalah yang menyebabkan Siswa / Siswi tidak berpartisipasi dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial seperti Siswa / Siswi kurang berkemampuan dalam menghafal materi-materi yang penting pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, Siswa / Siswi malas menjawab soal-soal yang berhubungan dengan Ilmu Pengetahuan Sosial karena membutuhkan jawaban yang panjang dan sumber belajar yang disajikan dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kurang menarik perhatian Siswa / Siswi.

Apabila masalah-masalah tersebut terus berlanjut maka menyebabkan tingkat pemahaman Siswa / Siswi terhadap pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial akan rendah.

Permasalahan yang diuraikan di atas, harus dibuat cara untuk mengatasi pembelajaran tersebut. Upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan melakukan tindakan pembelajaran di kelas V. Tindakan yang dilakukan peneliti adalah berupa diskusi panel di mana diskusi panel merupakan suatu metode pembelajaran berkelompok yang di lakukan Siswa / Siswi di dalam kelas untuk menyelesaikan tugas yang diberikan guru. Selain metode pembelajaran diskusi panel, tindakan yang lain dapat di lakukan peneliti adalah dengan memanfaatkan media pembelajaran berupa media visual seperti gambar-gambar berwarna yang dibuat peneliti dan media pembelajaran ini diajarkan sesuai pokok bahasan yang akan dijelaskan peneliti pada Siswa / Siswi sebagai upaya untuk peningkatan partisipasi belajar Siswa / Siswi kelas V pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

Melihat permasalahan yang di uraikan di atas, peneliti merasa segera mengambil tindakan dengan menawarkan beberapa solusi untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.
Beberapa solusi yang di tawarkan yaitu :
  1. menggunakan metode pembelajaran yang lebih beraneka ragam contohnya dengan menggunakan metode pembelajaran diskusi panel,
  2. penggunaan media pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial berupa gambar, 
  3. melakukan model pendekatan individual pada Siswa / Siswi yang kurang berminat belajar Ilmu Pengetahuan Sosial.

Dari beberapa solusi yang di tawarkan di atas, maka solusi yang tepat untuk meningkatkan partisipasi belajar Siswa / Siswi dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial yaitu dengan menggunakan metode pembelajaran diskusi panel.


Penggunaan diskusi panel ini dirasa tepat untuk meningkatkan partisipasi belajar Siswa / Siswi dalam Ilmu Pengetahuan Sosial karena kegiatan diskusi panel ini memberi kemungkinan pada Siswa / Siswi untuk belajar berpartisipasi dalam pembicaraan dengan berusaha menyatakan pendapatnya secara lisan dengan tujuan untuk memecahkan suatu masalah bersama.

Dengan kemampuan Siswa / Siswi dalam menyatakan pendapat dan pikirannya dalam memecahkan masalah pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial membuat suasana belajar Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas menjadi lebih hidup dan bermakna serta dapat mempertinggi kemampuan berpartisipasi belajar Siswa / Siswi secara individual, meningkatkan pemahaman Siswa / Siswi terhadap pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, serta dapat meningkatkan hasil belajar Siswa / Siswi menjadi lebih baik dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

Atas dasar pemikiran di atas, maka peneliti tertarik melakukan Penelitian Tindakan Kelas untuk meningkatkan partisipasi belajar Siswa / Siswi dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dengan menetapkan judul : Upaya meningkatkan partisipasi belajar Siswa / Siswi melalui kegiatan diskusi panel pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas V SD Negeri 02 Pondokpanjang

Identifikasi Masalah

  1. Minat belajar Siswa / Siswi sangat kurang untuk pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
  2. Banyak Siswa / Siswi yang beranggapan bahwa belajar Ilmu Pengetahuan Sosial adalah mudah
  3. Keaktifan Siswa / Siswi dalam mengerjakan soal-soal Ilmu Pengetahuan Sosial sangat kurang
  4. Keturutsertaan Siswa / Siswi berpartisipasi dalam belajar Ilmu Pengetahuan Sosial sangat kurang, ditunjukkan dari sebagian Siswa / Siswi yang diam dan Siswa / Siswi lainnya ribut di kelas
  5. Guru menggunakan metode pembelajaran yang monoton dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
  6. Materi dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial terlalu luas sehingga Siswa / Siswi kurang berkemampuan dalam menghafal materi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
  7. Guru kurang terampil dalam membuat media pembelajaran
  8. Sumber belajar yang disajikan dalam pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial kurang menarik perhatian Siswa / Siswi


Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi batasan masalah dalam penelitian ini yaitu : Upaya meningkatkan partisipasi belajar Siswa / Siswi melalui kegiatan diskusi panel pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas V SD Negeri 02 Pondokpanjang.

Perumusan Masalah

Perumusan masalah dalam Penelitian Tindakan Kelas ini yaitu: Apakah melalui kegiatan diskusi panel dapat menigkatkan partisipasi belajar Siswa / Siswi pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas V SD Negeri 02 Pondokpanjang ?

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah untuk menigkatkan partisipasi belajar Siswa / Siswi melalui kegiatan diskusi panel pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di Kelas V SD Negeri 02 Pondokpanjang

Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian tindakan kelas ini antara lain :
  1. Bagi Siswa / Siswi, dapat di jadikan sebagai bahan acuan untuk meningkatkan partisipasi belajar Siswa / Siswi dengan kegiatan diskusi panel dan dapat meningkatkan semangat belajar Siswa / Siswi dalam Ilmu Pengetahuan Sosial dengan kegiatan diskusi panel
  2. Bagi guru, penelitian ini dapat menjadi alternatife pengajaran dalam meningkatkan partisipasi belajar Siswa / Siswi dan mengatur keberhasilannya dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, serta memperoleh wawasan baru dalam hal penggunaan metode pembelajaran sebagai upaya meningkatkan partisipasi belajar Siswa / Siswi
  3. Bagi sekolah, hasil penelitian ini dapat menjadi referensi sebagai masukan atau evaluasi guna meningkatkan mutu dan kwalitas pendidikan di sekolah
  4. Bagi saya, dengan membaca ini berarti anda sudah membantu saya dalam meningkatkan traffic blog saya. Terima kasih

Kajian Teori

Keterampilan berbicara merupakan salah satu keterampilan yang terdapat dalam kurikulum di sekolah. Keterampilan ini erat hubungannya dengan keterampilan berkomunikasi antara sesama manusia yang bertujuan untuk menyatakan pendapat dan pikiransecara lisan sehingga tercipta proses percakapan yang menyambung.

Kemampuan berbicara berlangsung secara teratur mula-mula pada masa balita dan anak-anak. Belajar berbicara didapat dari lingkungan keluarga. Setelah beranjak remaja dan dewasa, kemampuan berbicara menjadi meningkat menuju kearah yang lebih baik karena telah mengalami proses belajar berbicara yang didapat dari lingkungan sekolah dan tempat tinggal.

Kemampuan dalam berbicara merupakan suatu pelajaran pokok yang harus di latih oleh Siswa / Siswi sejak duduk di kelas rendah agar seorang Siswa / Siswi menjadi tanggap dalam menyatakan pikiran dan hal yang ingin ditanggapinya dalam hal belajar mengajar di kelas. apabila seorang Siswa / Siswi telah mahir dalam berbicara maka untuk melanjut ke kelas tinggi akan lebih mudah karena kecakapan Siswa / Siswi dalam berbicara mengenai suatu hal yang berhubungan dengan pelajarannya akan menunjang prestasi Siswa / Siswi menjadi lebih baik.

Siswa / Siswi yang telah duduk di kelas tinggi dituntut untuk mampu berbicara secara lisan dan fasih ketika mengturuti proses pembelajaran di kelas. Tujuannya untuk menciptakan proses belajar mengajar lebih aktif, kreatif dan bermanfaat bagi Siswa / Siswi sehingga pelajaran yang didapatnya di kelas dapat dipahami dan diaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari

Salah satu bentuk kemampuan berbicara yang mampu menciptakan suasana belajar mengajar jadi menyenangkan dan bermakna adalah dengan kegiatan berpartisipasi dalam proses belajar mengajar di kelas. Karena dengan keaktifannya Siswa / Siswi berperan serta untuk berpartisipasi akan meningkatkan tingkat pemahaman Siswa / Siswi terhadap materi pelajaran yang dipelajarinya di kelas.

Slamet ( 1993:60) menyatakan “partisipasi merupakan suatu bentuk keterlibatan dan keturutsertaan secara aktif dan sukarela dalam suatu kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan bersama”.

Keturutsertaan aktif Siswa / Siswi dalam belajar ini bukan hanya di dalam kelas saja tetapi juga di luar kelas, Siswa / Siswi harus berpartisipasi aktif mengturuti pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial baik yang dilaksanakaan guru di dalam dan di luar kelas.

Contoh kegiatan pembelajaran di luar kelas adalah dengan membuat hasil kerja bagi Siswa / Siswi seperti menggambar dan membuat kerajinan. Berpartisipasi tidak hanya dalam pengertian keturut sertaan saja tetapi berpartisipasi dalam belajar di kelas adalah mampu megturuti setiap proses pembelajaran seperti bertanya jawab pembelajaran di dalam kelas, mendengarkan penjelasan guru, memperhatikan guru mengajar, mencatat hasil pembelajaran, menyelesaikan soal-soal latihan dengan benar dan berinteraksi positif di dalam kelas dengan menciptakan suasana nyaman dan ramah antar guru dan Siswa / Siswi.
diskusi panel

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, belajar berarti berusaha, berlatih, dan sebagainya supaya mendapat kepandaian.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, parisipasi belajar berarti keturutsertaan secara aktif dan sukarela dalam mengturuti kegiatan pembelajaran supaya mendapat kepandaian. Siswa / Siswi yang berpartisipasi dalam belajar akan mudah menangkap dan memahami isi dari materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru sehingga dapat memacu prestasi belajar Siswa / Siswi menjadi lebih baik.

Dalam buku Psikologi Pendidikan (dalam tim dosen, 2009:106), diskusi berarti pertimbangan pertukaran pikiran, pembicaraan atau masalah. Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Canei (dalam tim dosen, 2008:97) menyatakan bahwa panel berarti “suatu kelompok kecil (antara 3-6 orang) peserta diskusi dimana para peserta berinteraksi tatap muka untuk menyampaikan pendapat mereka melalui bimbingan dari seorang moderator atau ketua.

Menurut Rosmala Dewi dalam PTK, panel suatu kelompok kecil antara 3-6 orang mendiskusikan suatu subyek tetentu, mereka duduk dalam susunan semi melingkar dihadapkan pada suatu kelompok besar peserta lainnya. Anggota kelompok lain ini dapat diundang untuk turut berpartisipasi, yang duduk sebagai panelis adalah orang yang ahli dalam bidangnya.

Dari pernyataan yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa diskusi panel merupakan pembicaraan atau pertimbangan tentang suatu topik atau permasalahan yang menjadi perhatian bersama antara 3-6 orang peserta diskusi dimana para peserta berinteraksi tatap muka untuk menyampaikan pendapatnya melalui bimbingan dari seorang moderator.

Landasan teoritis pembelajaran diskusi panel berasal dari teori kognitif Piaget dan teori belajar social Vygotsky. Dimana teori kedua tokoh ini menyatakan bahwa system diskui merupakan sentral untuk menciptakan lingkungan belajar yang positif. Khususnya pada diskusi panel membantu dalam menetapkan pola partisipasi dan secara konsekuen memiliki dampak besar terhadap manajemen kelas.

Ada beberapa pendekatan diskusi panel yang dikemukakan oleh Tjokrodihardjo (2003). . Pendekatan tersebut terdiri dari:
  1. pertukaran resitasi adalah guru meminta Siswa / Siswi mendengarkan informasi atau topik tertentu,
  2. diskusi berdasarkan masalah adalah guru mendorong Siswa / Siswi mengajukan pertanyaan,
  3. diskusi berdasarkan saling berbagi pendapat adalah membantu Siswa / Siswi mengekspresikan pikiran dan pendapat secara bebas.

Diskusi Panel memiliki keunggulan dan kelemahan dalam teknik pelaksanaannya, (Suryosubroto, 1997:185-186 Trianto).

Keunggulan diskusi panel yaitu:
  1. pendengar dapat mengturuti perkembangan berpikir panelis,
  2. mengemukakan pandangan yang berbeda-beda,
  3. mendapat hasil kesimpulannya,
  4. Mendorong analisa kemungkinan,
  5. dapat merangsang pemikiran massal secara singkat.

Kelemahan diskusi panel yaitu:
  1. mudah tersesat,
  2. memungkinkan panelis berbicara terlalu banyak,
  3. tidak memungkinkan semua peserta ambil bagian,
  4. memerlukan moderator yang terampil,
  5. membutuhkan waktu dan persiapan yang cukup.


Diskusi Panel termasuk metode pembelajaran. Istilah metode secara harafiah “cara”. Makna umumnya diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu. Istilah metode sangat popular dalam pendidikan karena proses belajar mengajar merupakan bagian dari pendidikan yang berlangsung di sekolah dimana sebagai tenaga pendidik, seorang guru harus mampu menggunakan metode mengajar yang beraneka ragam agar proses pembelajaran menjadi efektif dan bermakna.

Metode mengajar yang digunakan dalam proses pembelajaran disebut metode pembelajaran.Dalam buku Strategi Belajar Mengajar (dalam tim dosen, 2008:85-86) diuraikan beberapa manfaat dari metode pembelajaran yaitu:

  1. metode sebagai alat motivasi ekstrinsik maksudnya adalah metode menempati peranan penting sebagai alat memotivasi guru mengajar sehingga muncul metode pembelajaran yang beragam
  2. metode sebagai alat Strategi Belajar Mengajar maksudnya guru harus memiliki strategi agar anak didik dapat belajar secara efektif dan efisien mengena pada tujuan yang diharapkan,
  3. metode sebagai alat untuk mencapai tujuan dimana tujuan dari kegiatan Belajar Mengajar adalah komponen metode yang akurat antara metode dan tujuan harus berjalan selaras

Demikian halnya dengan metode pembelajaran diskusi panel yang dibahas dalam penelitian ini. Peneliti berharap diskusi panel menjadi metode mengajar yang mampu mencapai tujuan pembelajaran yaitu meningkatkan partisipasi belajar Siswa / Siswi kelas V pada pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial.

Temuan Penelitian Yang Relevan

Hasil penelitian terdahulu menghasilkan :
  1. Endang Tuti, 2017, dalam penelitiannya membahas faktor-faktor yang mempengaruhi partisipasi warga belajar dalam mengturuti program paket B di pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) Teladan Pondokpanjang.
  2. Menurut pendapat Burton bahwa faktor partisipasi belajar yaitu faktor biologis, faktor psikologis, social ekonomi keluarga, tempat tinggal, suasana belajar, prestasi belajar dan motiVsi,
  3. Nunuy, 2017, dalam penelitiannya membahas mengenai hubungan motivasi dan partipasi belajar terhadap prestasi belajar warga belajar paket B di Sanggar Kegiatan Belajar Kota Cihara menurut pendapat Islahuddin mengemukakan bahwa partisipasi belajar yaitu dilihat dari kuantitatif seperti minat belajar Siswa / Siswi dan secara kualitatif seperti kebutuhan belajar Siswa / Siswi.

Kerangka Konseptual

John Dewey (dalam tim dosen, 2009:99) menyatakan bahwa “Siswa / Siswi belajar untuk merumuskan dan memecahkan masalah (memberi respon/tanggapan terhadap rangsangan yang menggambarkan situasi problematik) dengan menggunakan peraturan yang dikuasainya”. Menurutnya, Siswa / Siswi yang mencapai tingkatan belajar di sekolah, harus mampu dalam mengidentifikasi permasalahannya yang dihadapinya.

Di mana permasalahannya itu akan dicari solusi mengatasinya. Untuk memudahkan Siswa / Siswi memecahkan masalah tersebut dibentuk kelompok diskusi kelas dengan menerapkan pembelajaran diskusi panel yang berguna sebagai alat memotivasi dan meningkatkan partisipasi belajar Siswa / Siswi saat pembelajaran khususnya pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Metode pembelajaran yang dimaksud ialah diskusi panel.

Dengan metode pembelajaran diskusi panel diharapkan dapat menghilangkan kebosanan dan kejenuhan Siswa / Siswi belajar Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas V karena dengan belajar saling berkelompok ini, suasana belajar akan lebih menarik dan hidup sehingga motivasi dan partisipasi Siswa / Siswi terpacu untuk memecahkan masalah pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di kelas V sehingga tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial akan tercapai dengan maksimal.
Pengertian HAM Lengkap Sekali

Pengertian HAM Lengkap Sekali

Pengertian HAM Lengkap ~ Pengertian Hak asasi manusia (HAM) secara umum yaitu hak pokok atau hak dasar yang dibawa oleh manusia sejak lahir yang secara kodrat melekat pada setiap manusia dan tidak dapat diganggu gugat karena merupakan anugrah Tuhan Yang Maha Esa.

Hak Dasar atau Hak Pokok dimaksud yang tidak dapat diganggu gugat yang melekat pada diri manusia merupakan suatu anugerah yang tidak dapat dibeli dengan uang namun dapat dirampas dengan mudah.

Menurut Wikipedia bahwa pengertian HAM  Hak Asasi Manusia(HAM) adalah prinsip-prinsip moral atau norma-norma, yang menggambarkan standar tertentu dari perilaku manusia, dan dilindungi secara teratur sebagai hak-hak hukum dalam hukum kota dan internasional.

Thomas Hobbes dalam bukunya mengatakan bahwa “ Manusia adalah Serigala bagi manusia lain” menunjukan bahwa untuk mengambil Hak Asasi orang lain dapat dengan mudah dilakuka oleh individu atau kelompok tertentu baik secara spontanitas atau secara sistematis.

Pengambilan Hak Dasar orang lain secara paksa merupakan suatu pelanggaran yang seharusnya dihindari dengan dalih apapun juga.
pengertian ham dan sejarah ham

Macam-Macam HAM

HAM terdiri dari beberapa macam yang melekat pada diri manusia secara alamiah dan tidak dapat diganggu gugat diantaranya adalah :

  1. Hak Asasi Pribadi, meliputi kemerdekaan memeluk agama, beribadat menurut agama masing-masing, menyatakan pendapat, dan kebebasan berorganisasi
  2. Hak Asasi Ekonomi atau Hak Milik, meliputi kebebasan memiliki sesuatu, membeli dan menjual sesuatu, hak untuk bekerja dan hak untuk mengadakan perjanjian atau kontrak
  3. Hak Asasi Persamaan Hukum, meliputi mendapatkan pengayoman dan keadilan yang sama di depan hukum
  4. Hak Asasi Politik, meliputi hak untuk diakui sebagai warga negara yang sederajat, hak untuk memilih dan dipilih dalam pemilihan umum.
  5. Hak Asasi Sosial dan Kebudayaan, meliputi hak kebebasan untuk berpendidikan dan pengembangan kebudayaan, hak mengembangkan kesenian atau hak untuk menciptakan sesuatu.
  6. Hak Asasi Perlakuan yang Sama Dalam Tata Cara Peradilan dan Perlindungan Hukum, meliputi hak mendapat perlakuan yang wajar dan adil dalam penggeledahan.

Instrumen HAM Nasional

Ada dua instrumen Hak Asasi Manusia ( HAM ) yang ada dan berkembang di Indonesia yaitu :

Instrumen Hukum HAM Nasional


  1. UUD 1945
  2. Ketetapan MPR No. XVII/MPR/1998
  3. UU Nomor 39 Tahun 1999

Instrumen Kelembagaan HAM Nasional


  1. Komnas HAM
  2. Pengadilan HAM
  3. Pengadilan HAM Ad Hoc
  4. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi
  5. Organisasi Pemerintah atau Lembaga Swadaya Masyarakat

Upaya Penegakan HAM di Indonesia

Upaya penegakan ham di Indonesia dilakukan dengan cara Pelaksanaan Pencegahan Pelanggaran HAM yaitu:

  • Penciptaan perundang-undangan HAM
  • Penciptaan lembaga-lembaga pemantauan dan pengawas pelaksanaan HAM
  • Penciptaan perundang-undangan dan pembentukan lembaga peradilan HAM
  • Pelaksanaan pendidikan Ham kepada masyarakat
  • Menugaskan kepada lembaga-lembaga tinggi negara dan seluruh aparatur pemerintah untuk menghormati, menegakkan, dan menyebarluaskan pemahaman tentang HAM kepada seluruh masyarakat.
  • Menugaskan kepada presiden serta DPR untuk segera meratifikasi berbagai instrumen internasional tentang HAM.

Penindakan Atas Pelanggaran HAM


  1. Pelayanan, konsultasi, pendampingan, dan advokasi bagi masyarakat yang menghadapi kasus HAM
  2. Penerimaan pengaduan dari korban pelanggaran HAM
  3. Investigasi, yaitu pencarian data, informasi, dan fakta yang berkaitan dengan peristiwa dalam masyarakat yang patut diduga merupakan pelanggaran HAM
  4. Penyelesaian perkara melalui perdamaian, negosiasi, mediasi, konsiliasi, dan penilaian ahli.
  5. Penyelesaian perkara pelanggaran HAM berat melalui proses peradilan di pengadilan HAM

pengertian ham secara lengkap

Peran Rakyat Indonesia dalam Penegakan HAM

Dalam kehidupan bermasyarakat


  1. Mencegah segala tindakan atau perbuatan yang mengarah ke pelanggaran HAM
  2. Menghindari perbuatan yang kiranya dapat merendahkan, melecehkan nilai-nilai kemanusiaan
  3. Memahami berbagai instrumen HAM dan menyebarluaskannya
  4. Mengamati dan mendiskusikan berbagai perkembangan kebijakan HAM dan pelanggaran HAM

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara


  1. Bersedia menjadi saksi dalam proses di pengadilan jika benar-benar mengetahui peristiwa pelanggaran HAM
  2. Melaporkan pada pihak yang berwajib
  3. Turut serta dalam pembangunan opini publik
  4. Melibatkan diri dalam kelompok yang bertujuan melakukan studi, penyadaran, kampanye, konsultan, dan advokasi HAM.

Proses Penegakan HAM di Indonesia

Proses penegakan hak asasi manusia dilakukan dengan Hukum Acara Pengadilan Hak Asasi Manusia. Hukum acara tersebut meliputi:

  • Penangkapan
  • Penahanan
  • Penyelidikan
  • Penyidikan
  • Penuntutan

Hambatan dalam Penegakan HAM

  1. Masih adanya sikap mental feodal di kalangan sekelompok orang Feodalisme bertentangan secara diametral dengan hak hak asasi manusia.
  2. Adanya kecurigaan dari beberapa individu yang mengkawatirkan bahwa gerakan yang memperjuangkan hak asasi manusia akan menyebabkan disintegrasi nasional, membahayakan persatuan dan kesatuan yang telah dibina berpuluh puluh tahun.
  3. Rendahnya kesadaran hukum dan kesadaran kemanusiaan masyarakat.
  4. Masih rendahnya kesadaran politik yang berimplikasi pada penyalahgunaan wewenang yang mengakibatkan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia, dan juga dapat melahirkan kebijakan publik yang potensial memungkinkan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia.

Tantangan dalam Penegakan HAM


  1. Dengan disahkannya UU Nomor 26 Tahun 2000 tentang HAM ditegaskan bahwa pelanggaran hak-hak asasi manusia yang terjadi sebelum UU Nomor 26 disahkan tidak dapat diadili berdasarkan prinsip-prinsip HAM, sehingga peristiwa pelanggaran HAM yang besar tidak mungkin lagi dapat diselesaikan berdasarkan HAM ad hoc.
  2. Adanya larangan hukum berlaku surut (nonretroaktif) memungkinkan para tersangka dan terdakwa luput dari proses hukum keadilan dan luput dari tegaknya hukum acara.
  3. Nebis in idem (double jeopardy). Asas mengatur bahwa orang yang telah dihukum oleh pengadilan HAM tidak dapat lagi dituntut oleh pengadilan biasa

Konsekuensi suatu Negara yang Tidak Menegakkan HAM

Apabila suatu negara tidak menegakkan HAM, maka ada beberapa konsekuensi yang dapat diberikan, yaitu :

  1. Negara tersebut akan dikucilkan dari peraturan dunia internasional
  2. Adanya tuntutan-tuntutan dari LSM-LSM nasional maupun internasional terhadap pemerintah dari negara yang bersangkutan
  3. Jika terjadi pelanggaran HAM, misalnya genosida (pemantaian massal) dari pemerintah yang berkuasa kepada rakyatnya, maka melalui resolusi Dewan Keamanan PBB, pemimpin negara yang bersangkutan dapat dituntut untuk diajukan ke Mahkamah Agung
Baca Juga : Unsur Unsur Administrasi

Sejarah Penegakan HAM

Magna Charta (Piagam Agung), 15 Juni 1215

Piagam pertama yang mengakui hak kemerdekaan diri dan amat masyhur di Eropa.

Hobeas Corpus Act, 1674

Piagam ini lahir pada masa pemerintahan Charles II yang memuat jaminan seseorang tidak boleh ditangkap dan ditahan dengan semena-mena kecuali menurut peraturan perundangan yang berlaku.

Bill of Rights (Pernyataan Hak Asasi Manusia), 1689

Piagam ini diciptakan oleh parlemen Inggris sebagai tuntutan kepada Prince of Orange dan memuat pengakuan terhadap hak petisi, kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat bagi parlemen dan pemilihan parlemen harus bebas.

Declaration of Independence (Pernyataan Kemerdekaan Rakyat Amerika), 4 Juli 1776

Piagam ini merupakan piagam hak asasi manusia yang mengandung pernyataan bahwa sesungguhnya semua bangsa diciptakan sama derajatnya oleh Yang Maha Pencipta.

Declaration des Droits de L’Homme et du Citoyen (Pernyataan Hak-Hak Manusia dan Warga Negara), 4 Juli 1789

Undang-undang ini dicetuskan pada permulaan Revolusi Perancis sebagai pahlawan terhadap kesewenang-wenangan Raja Louis XVI.

Right of Self Determination, Januari 1918

Naskah ini diusulkan T. Woodrow Wilson yang memuat 14 pasal sebagai dasar untuk mencapai perdamaian yang adil.

The Four Freedom (Empat Kebebasan), 1941

Naskah ini dicetus oleh Franklin D. Roosevelt yang memuat kebebasan berbicara, menyatakan pendapat, kebebasan beragama, kebebasan dari rasa ketakutan, dan kebebasan dari segala kekurangan.

The Universal Declaration of Human Rights, 10 Desember 1948

Piagam ini memuat 30 pasal pernyataan umum tentang hak-hak asasi manusia yang diterima dan diproklamasikan oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948.

Instrumen Hukum HAM Internasional

  1. Instrumen umum, meliputi: Piagan PBB 1945, Deklarasi Universal HAM
  2. Penentuan nasib sendiri
  3. Pencegakan diskriminasi
  4. Administrasi Peradilan, Penahanan dan Penganiayaan
  5. Kejahatan Perang, Kejahatan Kemanusiaan, termasuk Genosida
  6. Perbudakan dan Praktek Serupa, diatur oleh: Konvensi Penghapusan Kerja Paksa
  7. Kewarganegaraan, Ketiadaan Kewarganegaraan, Suaka dan Pengungsi
  8. Perkawinan dan Keluarga, Anak-anak dan Remaja
  9. Hak untuk Bekerja dan Hak untuk Berhimpun
  10. Kesejahteraan Sosial, Kemajuan dan Pembangunan
  11. Hak Politik dan Sipil Wanita
  12. Kebebasan Informasi dan Perlindungan Data
  13. Penduduk Asli dan Kelompok Minoritas

Instrumen terpenting HAM yang merupakan induk dari seluruh instrumen HAM lainnya adalah The International Bill of Human Rights. The International Bill of Human Rights adalah istilah yang digunakan untuk menunjuk tiga instrumen atau dokumen pokok HAM, yaitu :

  1. The Universal Declaration of Human Rights
  2. International Convention on Economic, Social and Cultural Rights
  3. International Convention on Civil and Political Rights.

Peradilan HAM International

Sumber kewenangan dan legitimasi peradilan hak asasi manusia internasional dapat dilihat dari 3 dimensi:

  1. Adanya persetujuan dari PBB sebagai badan internasional
  2. Adanya asas hukum umum ‘jus congens’ bahwa norma-norma fundamental yang diakui oleh masyarakat internasional berstatus lebih tinggi terhadap norma lainnya.
  3. Adanya berbagai konvensi dan traktat internasional

Contoh peradilan hak asasi manusia Internasional

  1. Mahkamah Militer Internasional Nuremberg dan Tokyo
  2. Mahkamah Pidana Internasional untuk Yugoslavia

Demikianlah kami menulis artikel tentang Pengertian HAM Lengkap Sekali untuk dapat dipergunakan sebagaimana adanya.


Paradigma Administrasi Negara Menurut Nicholas Henry

Paradigma Administrasi Negara Menurut Nicholas Henry

Paradigma Administrasi Negara Menurut Nicholas Henry | TheCrazyPerfect.com. Seperti biasa, tino duduk termenung di dekat warung di Kampusnya. Tempat favoritnya adalah sebelah utara dekat dengan danau buatan.

Dia masih teringat dengan kata kata pak dosen kemarin, bahwa hidup harus sederhana, bahwa hidup harus rendah hati, bahwa hidup tidak perlu dipamerkan.

Kenyataan itulah yang harus diterima manusia, bukan khayalan atau angan angan yang tak pasti. Jalani hari ini untuk esok hari, bertindak baik hari ini besok akan menerima buah yang baik. Begitulah fikirnya.

“ Duaaaaar” Tino terkejut dari lamunannya. “ Bengong aja lu tin, mikirin apa brow?”. Asep Samehong bertanya pada tino. “ Eh, elu hong, ngagetin aja”. Mehong dan Tino adalah teman akrab sejak kecil, sejak Sekolah Dasar mereka selalu bersama-sama. Sobat dalit istilah sunda.

“ Gua bingung ton, tadi pagi dosen gua ngasih gua tugas kuliah nih”. Mehong sedikit mengeluh. “ Emang tugas apaan hong?” Tino menimpali keluh kesah mehong.

“ Gua disuruh ngejelasin Paradigma Administrasi Negara Menurut si Nicholas Henry. Gimana gua ngejelasinnya. arti paradigma aja gua kagek tahu”.

“ Ya elah, mehong, masa sih yang kayak gitu aja tidak tahu”

“ Swear lah gua sambar geledek tin, kagek tahu”

“ kalo lu mau tau pengertian paradigma, tuh baca di blognya bang Hedi Hadiningrat. Lengkep deh pokoknya. Dari mulai Sejarah Administrasi, Perkembangan Administrasi sebagai ilmu dan juga seni. Pokoknya banyak deh, siapa tahu aja bisa jadi referensi buat lu” Tino menjelaskan panjang lebar.

“ Oh, gitu ya.. ngomong2 referensi apaan tin?” Tanya Mehong.

“ Asem banget lu hong, referensi aja kagak tahu”. Tepok jidat. “ Referensi itu rujukan hong, ngarti?”
Asep Samehong manggut2. Maklum pemilik IQ diatas 200 jadi level ilmu mehong lebih tinggi, jadi wajar saja kalo tidak tahu yang kayak gitu.

Kemudian, setelah lama mereka terdiam dan melongo memikirkan kehidupan yang cukup keras dari cadas. Mehong lalu bertanya “ Menurut lu tin, paradigma administrasi negara menurut nicolas henry apa sih, soalnya gua bener2 gk ngeuh sama sekali”. Tino mulai berfikir dan mencari2 apa yang dia ingat.

“ Kalo dari buku yang gw baca sih ada 5 hong”. Mehong mulai seneng, keliatan dari lubang hidungnya mulai membesar. “ Apa aja tin?, tolong dong jelasin ke gua”. Merengek seperti anak minta jajan sama ibunya.

“ Menurut Nicolas Henry, paradigma administrasi negara ada lima yaitu : dikotomi politik dan administrasi rentang waktu antara 1900 sampai dengan 1926 adalah paradigma yang pertama. Prinsip - prinsip administrasi negara antara tahun 1927 sampai dengan 1937 adalah paradigma ke – 2. Administrasi Negara Sebagai Ilmu Politik (1950-1970) masuk dalam paradigma ketiga. Administrasi Negara Sebagai Ilmu Administrasi tahun 1954 sampai tahun 1970 paradigma keempat. Administrasi Negara Sebagai Ilmu Administrasi Negara tahun 1970 adalah paradigma kelima”. Tino menyebutkan paradigma negara menurut Henry semampunya.

“ Oh, gitu ya? Terus penjelasannya gimana?”. Mehong mulai penasaran

“ Ada bayarannya gak nih”? Canda Tino

“ Tenang aja, gw traktir es dawet” jawab mehong

“ Nih, dengerin ya hong !” tino mulai menjelaskan

# 1. Paradigma satu yaitu Dikotomi Politik Dan Administrasi

Dimuat dalam tulisan Frank J. Goodnow dan Leonard D. White yang menyatakan ada dua fungsi pokok administrasi yaitu :
  1. Fungsi politik yaitu melahirkan keinginan-keinginan negara/merumuskan kebijakan-kebijakan.
  2. Fungsi administrasi yaitu melaksanakan kebijakan-kebijakan tersebut.
Ini merupakan tonggak sejarah paradigma kesatu menurut Nicolas Henry
Penekanan paradigma ini pada lokusnya yaitu dimana seharusnya administrasi ini berada dan kemudian dijawab oleh Goodnow. Menurutnya Administrasi Negara berpusat pada BIROKRASI PEMERINTAH

Baca Juga : Paradigma Administrasi Negara Menurut G.Frederickson

# 2. Penjelasan Paradigma Adm. Negara yang kedua yaitu : Prinsip - Prinsip Administrasi Negara.

Dalam paradigma ini lokus dari administrasi negara tidak begitu penting, yang paling penting adalah fokusnya yaitu “prinsip prinsip administrasi” dan dipandang dapat berlaku umum dan menyeluruh ( universal ) pada setiap bentuk organisasi dan lingkungan sosial budaya.

Prinsipnya adalah administrasi negara dapat diterapkan di negara mana saja walaupun berbeda budaya, lingkungan, bahasa visi misi dan lain sebagainya sehingga administrasi negara pada waktu itu mencapai puncak reputasinya.
Paradigma ini banyak menghasilkan karya yang hebat diantaranya :
  • Mary Parker Follet dalam Creative Experience tahun 1930
  • Henri Fayol dalam Industrial And General Manajement 1930
  • Willougby dalam Principles of public Administration tahun 1927
  • Frederick .W. Taylor dalam Principles of scientific Management tahun 1911
  • James D. Mooney dan Alan C Reiley Principles of Organication tahun 1939
  • Luther H Gulick dan Lyndall Urwick dalam Paper on the science of administration tahun 1937 Prinsip yang terkenal adalah POSDCORB (Planing, Organication, Stafing, Directing, Reporting, Budgeting)

# 3. Paradigma Ketiga dimana Administrasi Negara sebagai Ilmu Politik.

Pada fase ini upaya untuk menetapkan kembali hubungan konseptual antara administrasi negara dengan ilmu politik.

Umar (2004 : 5) menyatakan bahwa administrasi negara telah berkembang sebagai bagian dari ilmu politik. menurutnya dalam tahapan ini ada dua perkembangan baru yaitu:

Baca Juga :Perkembangan Administrasi Di Indonesia

  1. Tumbuhnya penggunaan studi kasus sebagai suatu sarana yang bersifat epistimologis.
  2. Tumbuhnya studi perbandingan dan pembangunan administrasi sebagai salah satu bagian dari ilmu administrasi
Namun terjadi masalah saat Dwight Waldo menyebutkan Administrasi bukan lagi dianggap sebagai ilmu politik. Maka timbul reaksi dari para sarjana Administrasi negara, mereka merasa tidak senang dan merasa dianggap sebagai warga kelas dua.

# 4. Administrasi Negara Sebagai Ilmu Administrasi (1954 – 1970).

Pada masa ini administrasi negara telah berkembang sebagai ilmu administrasi. Perkembangan ini diawali dengan ketidaksenangan bahwa ilmu administrasi dianggap sebagai ilmu kelas dua setelah ilmu politik.
Pada fase ini ilmu administrasi hanya memberikan focus tetapi tidak pada locusnya yaitu administrasi negara sebagai ilmu administrasi. Tahun 1956 terbitlah jurnal Administrative Science Quarterly sebagai sarana yang amat penting untuk menyuarakan pendapat dan konsep konsep dari paradigma ini.

# 5. Administrasi Negara Sebagai Ilmu Administrasi Negara 1970.

Pada masa ini administrasi negara telah berkembang menjadi ilmu administrasi negara yaitu dengan merambah kepada Teori Organisasi, Ilmu Kebijakan dan Ekonomi Politik. Dalam waktu singkat administrasi negara suatu bidang kajian telah menemukan warnanya tersendiri.

Gimana hong, kamu udah faham belum?. Kalo belum faham, kamu mandi kembang aja yaa. Kata tino kepada mehong. Saya kira penjelasan Paradigma Administrasi Negara Menurut Nicholas Henry ini cukup jelas, jika memang kurang jelas, anda bisa nanti ya,,, karena hari udah mulai subuh, saya undur diri untuk shalat subuh dan olahraga.

TheCrazyPerfect.com berusaha menyajikan artikel yang mudah difahami oleh anak2 atau orang dewasa, mengulas materi dari segi cerita adalah warnanya. Salam the crazy perfect
Paradigma Administrasi Negara Menurut G.Frederickson

Paradigma Administrasi Negara Menurut G.Frederickson

TheCrazyPerfect.com | Paradigma Administrasi Negara Menurut G. Frederickson. Siang hari yang panas, matahari menyapu dari atas seakan membakar ubun ubun. Membakar bumi dipijakan. Orang orang berkerut dahi menggerutu memaki hari.

Dibawah terik matahari, nampak seorang mahasiswa tergesa gesa berjalan diantara pohon pohon kering. Tino namanya, kuliah jurusan administrasi publik di sebuah universitas kurang nama di Jakarta.

Siang itu dia ada janji dengan dosen killer yang saban hari ngiler lihat mahasiswi berpakaian kurang bahan. Matanya tajam jika menghukum mahasiswa / mahasiswi yang nakal. Tak luput tino, dia juga menjadi sasaran kemarahan sang dosen lantaran hal sepele yang seharusnya tak jadi soal.

Dia melirik arlojinya, menunjukan waktu tengah hari pas. “ Tak boleh terlambat” gerutunya dalam hati. Langkahnya semakin dipercepat, dia jalan sedikit berlari seperti “ Kijang diterkam Singa”. Peluh bercucur tak dirasa, asal tepat waktu berhadapan.
Selang berapa lama, Tino pun sampai dirumah pak dosen, dia sudah menuggu didepan pintu rumahnya. Dia melihat Tino dan sejurus kemudian melirik arloji kesanyangan. “ Berani juga tuh anak” makinya.

“ 12 : 15 tepat”. Sambil menjulurkan tangan dia menyapa Tino

“ Selamat datang Tino, kamu memang mahasiswa saya yang paling jujur”. Sambutnya. Tino membalas jabat tangan pak dosen sambil tersenyum kecil “ Terima Kasih Pak atas pujiannya”.

“ Ayo masuk” ajak pak dosen. Tino mengekor, membuntuti pak dosen dari belakang. Sesampainya di dalam rumah, tino terkejut ternyata ruangan pak dosen tidak mewah dan hanya berisi peralatan seadanya. Padahal dia tahu, penghasilan pak dosen terbilang besar tetapi di dalam rumahnya sangat sederhana.

“ silahkan duduk !. kenapa melongo tin?. Tanya pak dosen. Tino kaget. “ Engga pak, gak ada apa2” jawab tino.

“ Kamu kaget ya lihat rumah bapak kayak gini”? pak dosen bertanya pada tino.

“ Iya pak, barang2 di rumah bapak sederhana”? jawab tino.

Kemudian pak dosen menjelaskan bahwa :

“ Kemewahan hanya keinginan manusia, bukan keinginan Tuhan. Dia menguji manusia dengan “ KEINDAHAN” dan “ KEBURUKAN”. Barang siapa diuji dengan keindahan, maka manusia akan lupa hakikatnya, akan lupa jati dirinya dan akan lupa siapa penciptanya. Sehinga “ MEWAH” itulah tuhannya”.

Tino tersentak, seperti ditampar anak kecil sahaja. Jauh diluar dugaan. Dia tak menyangka bahwa ternya dosen yang selama ini dia benci hidupnya begitu sederhana dan rendah hati.

“ Ok. Tino, langsung saja kepada pokok pembahasan. Bapak sengaja undang kamu kesini agar kamu belajar lebih fokus, bapak gak minta bayaran sama kamu”. Sambung pak dosen.

“ Siap Pak” Jawab Tino. Dia pun mulai membuka tasnya dan mengeluarkan tumpukan buku.
“ Materi kali ini kita akan membahas tentang “Paradigma Administrasi Negara”. Kamu tahu kan Pengertian Paradigma?. “ tahu pak jawab tino. Paradigma Administrasi Negara yang akan kita bahas kali ini hanya terbatas pada G. Frederickson saja. Sementara paradigma adiministrasi negara menurut nicholas henry akan bapak bahas dilain waktu.

“ Oh, jadi yang akan bapak sampaikan kali ini adalah “Paradigma Administrasi Negara Menurut G. Frederickson” ya pak” tanya tino.
“ Tepat Sekali” jawab pak dosen. Tino, ada berapa paradigma administrasi negara menurut G. Frederickson?. Tanya pak dosen lagi. “ Ada lima pak” Jawab tino dengan yakin. Kemudian pak dosen bertanya lagi “ Yakin Tin?”. Yakinlah.. jawab tino.

“ Coba buka buku kamu, ada berapa paradigma administrasi negara menurut G. Frederickson?. Perintah pak dosen. Tino membuka bukunya dan mulai mencari catatan kecilnya. Dia tidak menemukan apa yang bapak dosen suruh. “ gak ada pak”. Tino menjawab sambil melihat pak dosen.

“ Sudah bapak duga, itulah alasan kenapa bapak kamu panggil kerumah bapak, bapak tidak ingin anak didik bapak ketinggalan materi yang bapak ajarkan”. Pak dosen menjelaskan alasan kenapa tino disuruh kerumahnya. Tino tersentak yang kedua kalinya, seandainya saja kalo jantung tino made in japan, mungkin udah copot sedari tadi, dia tak sangka ternya pak dosen killer sangat ramah dan perhatian terhadap anak didiknya.

“ tino, paradigma administrasi negara menurut frederickson ada 6. Paradigma satu adalah paradigma birokrasi klasik. Paradigma dua Birokrasi Neo Klasik. Paradigma tiga adalah Kelembagaan. Keempat paradigma hubungan manusia. Nomor lima adalah paradigma pilihan publik dan terakhir adalah Paradigma Administrasi Negara Baru”. Pak dosen menjelaskan tentang paradigma administrasi negara dari sudut pandang seorang Frederickson.

Sekarang kita akan bahas satu persatu. Kita mulai dari Paradigma Satu yaitu Birokrasi Klasik.

#1. Paradigma Administrasi Negara Birokrasi Klasik
Dalam paradigma negara birokrasi klasik fokus pengamatan utama yaitu struktur organisasi, kemudian fungsi prinsip-prinsip manajemen.
Baca Juga : Pengertian Administrasi

sedang yang menjadi lokus adalah berbagai jenis organisasi baik itu organisasi pemerintah atau juga organisasi bisnis. Nilai pokoknya yaitu untuk mewujudkan efisiensi, efektivitas, ekonomi dan rasionalitas.

Tokoh utama dalam paradigma administrasi negara birokrasi klasik adalah :
  1. Weber dalam bukunya yang berjudul Bureaucracy yang dicetak pada tahun 1922
  2. Wilson dalam “ The Study of Public Administration tahun 1887
  3. Taylor dalam “Scientific Manajemen pada tahun 1912, dan terakhir
  4. Gulick dan Urwick dalam Papers on the cience of Administration terbit tahun 1937.

#2. Paradigma Administrasi Negara Neo Birokrasi Klasik.
Nilai yang dianut dan yang ingin dicapai dalam paradigma Neo Birokrasi Klasik yaitu : Lokus dalam paradigma ini adalah “Keputusan” yang dihasilkan atau dikeluarkan oleh Birokrasi pemerintahan.

Dan fokus utamanya adalah “proses pengambilan keputusan”. Proses pengambilan keputusan dimaksud dikhususkan pada :
  1. penerapan ilmu perilaku,
  2. penerapan ilmu manajemen
  3. analisa sistem ,dan
  4. penelitian operasi.
Tokoh utama Paradigma Administrasi Negara Neo Birokrasi Klasik yaitu :
  • Simon dalam buku Administration Behavior pada tahun 1948
  • Cyer & March dalam bukunya “Abehavioral Theory of the firm. Tahun 1963

#3. Paradigma Kelembagaan
Yang menjadi Fokus utama atau perhatian paradigma kelembagaan terletak pada pemahaman mengenai “perilaku birokrasi” yang dipandang sebagai sesuatu organisasi yang kompleks

Masalah efisien, efektivitas juga produktivitas organisasi kurang begitu diperhatikan dan prilaku birokrasi adalah pengambilan keputusan

#4. Paradigma Hubungan Kemanusiaan
Inti paling dasar dalam paradigma Hubungan Kemanusiaan yaitu :
  1. keikutsertaan dalam pengambilan keputusan,
  2. kecilnya perbedaan dan status hubungan antar pribadi,
  3. keterbukaan,
  4. aktualisasi diri dan
  5. mengoptimalkan tingkat kepuasan.
Fokus dari paradigma Hubungan Kemanusiaan yaitu “Dimensi kemanusiaan” dan aspek sosial didalam jenis organisasi maupun birokrasi.

#5. Paradigma Administrasi Negara Pilhan Publik
Fokus utama dari administrasi negara menurut paradigma Pilhan Publik adalah tak terlepas dari politik atau tatanan suatu politik.
Sedangkan Lokusnya adalah pilihan untuk melayani kepentingan publik akan barang dan jasa yang harus diberikan oleh sejumlah organisasi yang kompleks.

#6. Administrasi Negara Baru
Fokus paradigma Administrasi Negara Baru adalah usaha untuk mengorganisasikan, menggambarkan, mendesain atau membuat organisasi yang mengarah pada terwujudnya nilai nilai kemanusiaan secara maksimal yang dilaksanakan dengan menggambarkan sistem desentralisasi, demokratis yang responsif dan mengundang partisipasi pemerataan jasa yang diperlukan masyarakat.

Gimana Tin, kamu sudah faham Paradigma Administrasi Negara dari sudut pandang G Frederickson ini? Tanya pak dosen pada tino.
“ mudah mudahan saya memahaminya pak”. Jawab tino
“ Ok, sekarang bapak akan kasih kamu quis”
“ Quis apa pak? Tanya tino

Quisnya adalah :
  1. Jelaskan Pengertian Paradigma Administrasi Negara menurut G. Frederikson?
  2. Apa tujuan Administrasi Negara menurut G. Frederickson?

“ Besok kamu bawa ke meja bapak. Jawabannya bapak tunggu”. Perintah pak dosen pada Tino.

“Siap”. Tino Said

Materi tentang Paradigma Administrasi Negara Menurut G. Frederickson kita cukupkan sampai disini dulu tin. Sekarang kamu boleh pulang, minggu depan kita akan membahas Paradigma Administrasi Negara Menurut Nicholas Henry. Lanjut pak tino.

Tino pun bersiap2 untuk pulang, berkemas dan tersenyum. Terima kasih pak atas ilmu nya. Tino melenglang pergi dengan hati riang nan senang.
Pengertian Paradigma Menurut Ahli

Pengertian Paradigma Menurut Ahli

PENGERTIAN PARADIGMA – Sebelum saya membahas tentang Pengertian Paradigma, terlebih dahulu saya ingin memperkenalkan kepada reader bahwa saya telah merubah Judul, Deskripsi dan Meta Deskripsi blog “Coretan Hati” menjadi “The Crazy Perfect “. Bukan tanpa alasan, melainkan dengan penuh pertimbangan.
paradiga+menurut+ahli

Long Time Ago this alamat atau url ( uniform resource locator ) blog ini adalah heddysblogger.blogspot.com dan kemudian berubah menjadi thecrazyperfect.com maka otomatis title blog ini juga berubah namun tidak menghilangkan tujuan dari pembuatan blog ini.

Kembali kepada pembahasan, jika ada yang bertanya kepada anda, apa sih pengertian paradigma? Apakah anda akan diam atau bingung, atau akan menjawab sesuai kemampuan.?

Dalam memuat tulisan ini, saya berharap teman2 minimal mampu menjawab pengertian paradigma. Selain itu, tujuan utamanya adalah :
  1. Memahami pengertian paradigma menurut para ahli
  2. Mengenal konteks paradigma dalam kehidupan sehari-hari
  3. Memahami fungsi paradigma
Langsung ke TKP gan.. berikut ini adalah Pengertian Paradigma menurut para ahli. Cekidot
Secara umum, pengertian paradigma adalah seperangkat kepercayaan yang menuntun seseorang bertindak dalam kehidupan sehari-hari. Paradigma merupakan cara seseorang mendekati masalah dan mengambil jalan keluar atau solusi

  1. Menurut Guba, paradigma adalah seperangkar keyakinan mendasar yang memandu tindakan manusia dalam keseharian dan dalam penelitian ilmiah.
  2. Menurut KBBI paradigma adalah 1. daftar semua bentukan dari sebuah kata yang memperlihatkan konjugasi dan deklinasi kata tersebut. 2. Model dalam teori ilmu pengetahuan, 3. Kerangka berfikir
  3. Menurut Thomas Kuhn : 1993 dalam Peran Paradigma dalam revolusi sains “Paradigma merupakan suatu cara pandang, nilai nilai, metode metode, prinsip dasar atau cara memecahkan suatu masalah yang di anut suatu masyarakat ilmiah pada suatu masa tertentu”
  4. Menurut Prajudi Atmosudirdjo (2003 ; 91) Paradigma sebagai “sudut pandang utama”
  5. Robert T Golemblewski dalam Inu Kencana Syafiie (1999 :28) Paradigma adalah Standar suatu disiplin ilmu dilihat dari focus dan locusnya. Focus mempersoalkan apa kajian (What of the field) atau bagaimana cara memecahkan persoalan sedangkan locus memperoalkan dimana lokasi (Where of the field) atau medan penerapan suatu ilmu pengetahuan
  6. Mohanan dalam Muslim Salam (2003:69-70) tujuh pengertian paradigma :
  • Paradigma sebagai value System (sistem nilai) yaitu konstruksi dan evaluasi ilmu pengetahuan masyarakat komitmen dalam suatu sistem nilai yang memungkinkan kita mengevaluasi reliabilitas dari klaim ilmu suatu ilmu pengetahuan.
  • Paradigma sebagai research interests (minat penelitian) yaitu objek penelitian sudut pandang terhadap objek yang dikaji atau fenomena yang dianggap penting/menarik.
  • Paradigma sebagai Theories (Teori) yaitu seperangkat aturan hukum dan proposisi yang menghubungkan hukum tersebut dengan observasi , untuk menjelaskan apa yang sedang dikaji
  • Paradigma sebagai suatu models (model) yaitu konsep umum dari suatu realitas berdasarkan aturan aturan teoritis yang diformulasi.
  • Paradigma sebagai bodis of fact (seperangkat kenyataan) yaitu seperangkat hasil observasi yang membutuhkan penjelasan teoritis.
  • Paradigma sebagai theorical frameworks (kerangka teori) yaitu kosa kata yang berhubungan seperangkat konsep dimana proposisi dari suatu teori diformulasi.
  • Paradigma sebagai observational frameworks (kerangka observasi) yaitu kosa kata yang berasosiasi dengan seperangkat konsep dimana proposisi observaasi diformulasi.

Dalam perkembangan bidang ilmu administrasi negara tumbuh dan berkembang sejumlah “paradigma” yang menggambarkan adanya perubahan perubahan dan perbedaan perbedaan dalam tujuan, teori dan metodologi serta nilai nilai yang mendasar.